
Di hadapan ribuan umat yang menghadiri misa Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Ruteng, Mgr. Siprianus mengajak umat Katolik agar tidak menjadi penyebar fitnah dan kebencian, baik melalui berita yang tidak terverifikasi pun melalui media sosial. Bijaksana menimbang karna yang ‘viral’ belum tentu yang benar. Berani menjauhi sikap ‘lempar batu sembunyi tangan’ yakni tiup dulu isu, nanti korban membuktikan sendiri.
Ribuan umat Paroki Katedral Ruteng mengikuti Ibadat Jumat Agung mengenang Jalan Salib Yesus hingga wafatNya di Bukit Golgota. Pastor Paroki Katedral, RD Andi Latu Batara menggambarkan tragedi itu sebagai curahan Belas Kasih Allah yang berbela rasa dengan umat manusia. Kita diajak untuk mengalami Kasih Tanpa Batas itu dengan iman yang dalam.
Di hadapan hampir 200 imam yang mengikuti Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Kudus, Uskup Siprianus mengajak untuk tidak menjadikan Gereja sebagai benteng yang tertutup, melainkan Rumah Pengharapan. Imam diajak untuk selalu dekat dengan umat, tidak menjaga jarak atau menjauh dari mereka.
Tim pendamping Putra-Putri Altar (PPA) dan anggota PPA tujuh paroki dalam kota Ruteng, berkumpul di aula St. Yosef, Paroki Katedral. Kegiatan yang berlangsung setegah hari itu dihadiri oleh 125 peserta. Dalam surat undangan yang dikeluarkan oleh Paroki Katedral sebagai tuan rumah, setiap paroki mengutus 13 orang, dengan rincian 3 orang tim pendamping PPA dan 10 orang PPA senior.
Dalam kegiatan Bina Persaudaraan tim pendamping SEKAMI tujuh paroki dalam kota Ruteng, Minggu, 8 Maret 2026, RD. Jean mempresentasikan materi tentang katekese untuk anak SEKAMI. Dalam paparannya, RD. Jean menegaskan bahwa katekese adalah suatu bentuk karya pewartaan kepada umat. Pihak yang mengemban tugas pewartaan bukan hanya kaum tertahbis, Frater, Bruder, dan Suster, melainkan tugas semua umat beriman karena penerimaan Sakramen Baptis.
Untuk mengisi liburan sekolah bulan Juni dan Juli mendatang, tim pendamping SEKAMI akan mengadakan sebuah acara akbar bernama Natas de Mori. Natas de Mori berasal dari kekayaan bahasa dan budaya Manggarai. "Natas" adalah halaman atau pusat kehidupan tempat keluarga berkumpul, sedangkan "Mori" merujuk pada Tuhan.