
Sembilan pasutri menerima Sakramen Perkawinan pada Misa Nikah Massal di Gereja Katedral Ruteng. Dalam pesan homilinya, RD Patrick Dharsam Guru menegaskan, cinta yang sejati bukan hanya berani memulai hidup bersama, tetapi juga berani bertanggung jawab, terus bertumbuh, dan tetap setia.
RD Patrick Dharsam Guru didampingi RD Jean Loustar Jewadut saat sedang membagikan Ekaristi Kudus kepada pasutri yang menerima Sakramen Perkawinan dalam Nikah Massal di Gereja Katedral Ruteng, Jumat, 23/10/2026.
KATEDRALRUTENG.ORG – Berbagai kegiatan
diadakan oleh DPP Katedral Ruteng sebagai wujud ungkapan syukur dan kegembiraan
atas anugerah HUT ke-106 paroki ini yang berpuncak pada misa meriah Minggu, 25 Oktober
2026. Salah satunya, digelarnya Misa Pemberkatan Pernikahan Massal yang
dilaksanakan pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026.
Misa yang dilaksanakan di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan Santu Yosef, ini dipimpin Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ruteng yang juga Vikaris Parokial Katedral, RD Patrick Josaphat Dharsam Guru, didampingi RD Christian Sonny Igar, dan RD Jean Loustar Jewadut. Misa yang dimulai pukul 10.00 tersebut semakin meriah dengan penampilan koor Paduan Suara Assumpta.
Suasana saat digelarnya Perayaan Ekaristi pemberkatan Perkawinanan massal yang diikuti oleh 9 pasutri di Gereja Katedral Ruteng, Jumat, 23 Oktober 2026. (Foto: SEK. PKR)
Pada misa ini ada 9 pasangan
suami-istri yang mendapatkan Sakramen Perkawinan sebagai ‘hadiah’ syukur atas
HUT ke-106 paroki Katedral. Nikah Massal ini menjangkau semua calon pengantin
(catin) yang selama ini mengalami kendala dalam melangsungkan pernikahan karna
berbagai faktor, seperti kendala adat dan administrasi.
Saling Menguatkan dalam
Kesulitan
Sebelumnya, ke-9
pasangan nikah ini telah melewati sejumlah tahapan sebelum menerima Sakramen
Nikah, salah satunya mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPPK).
Perayaan Ekaristi berlangsung penih sukacita dan syukur karna menjadi momen
spesial bagi para pasutri meneguhkan cinta dan kehidupan keluarga mereka.
“Saya mengajak kesembilan pasangan untuk memaknai Sakramen Perkawinan bukan sebagai pemenuhan tuntutan adat atau kelengkapan administratif, melainkan sebagai langkah iman untuk membawa perjalanan cinta dan kehidupan keluargamu ke hadapan Tuhan,” ujar RD Patrick.
Vikaris Parokial Paroki Katedral Ruteng RD Patrick Josaphat Dharsam Guru. Ia juga menjabat Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ruteng dan Ketua Yapersukma Pusat Keuskupan Ruteng. (Foto: DOKPRI)
Mengacu pada bacaan
Kitab Kejadian 2:18–24 dan Injil Yohanes 2:1–11 tentang perkawinan di Kana, RD
Patrick menegaskan bahwa Tuhan hadir dan memberkati kehidupan keluarga.
Kehadiran Yesus di pesta perkawinan Kana menjadi tanda bahwa Tuhan tidak hanya
hadir dalam saat-saat penuh sukacita, tetapi juga ketika keluarga mengalami
kekurangan dan kesulitan.
“Kalian tidak memulai
cinta dari nol. Kalian membawa cinta yang sudah melewati perjalanan panjang,
dan hari ini kalian datang untuk meneguhkannya di hadapan Tuhan,” ungkapnya.
Imam yang juga menjabat Ketua Yapersukma Pusat Keuskupan Ruteng, ini juga mengingatkan bahwa cinta dalam perkawinan bukan hanya tentang hak untuk menerima, melainkan juga kesediaan untuk memberi. Suami dan istri dipanggil untuk saling menghormati, memahami, mengampuni, dan tetap setia dalam berbagai situasi kehidupan. “Jangan hanya ingin dihormati, tetapi tidak mau menghormati. Jangan hanya menuntut kesetiaan, tetapi tidak mau setia. Jangan hanya ingin dimengerti, tetapi tidak mau memahami,” pesannya.
Paduan Suara Assumpta yang beranggotakan pengurus DPP-DKP dan utusan wilayah dari seluruh wilayah Paroki Katedral Ruteng saat tampil membawakan lagu-lagu yang mengiringi kemriahan misa pemberkatan Perkawinan masssal di Gereja Katedral, Jumat, 23 Oktober 2026. (Foto: SEK. PKR)
Menurut RD Patrick,
keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami kekurangan
atau persoalan. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang tetap berusaha
saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.
Warisan Keteladanan
Perhatian khusus juga
diberikan kepada anak-anak yang telah hadir dalam kehidupan sebagian pasangan. RD
Patrick mengingatkan bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan
materi, tetapi juga teladan kasih, penghormatan, kesetiaan, dan tanggung jawab
dari orang tua mereka.
“Warisan terbesar bagi anak-anak bukan hanya harta yang kita tinggalkan, melainkan teladan tentang bagaimana mencintai dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Salah satu pasangan suami-istri (pasutri) tampah gembira mengukiti Misa Pemberkatan Perkawinan Massal yang diadakan di Gereja Katedral Ruteng, pada Jumat, 23 Oktober 2026 sebagai salah satu program 'Kado' HUT ke-106 Paroki Katedral Ruteng. (Foto: SEK. PKR)
Ia mengajak setiap
pasangan untuk tidak menuntut kesempurnaan dalam perkawinan, tetapi terus
belajar memperbaiki diri dan membangun kehidupan bersama. Sebab, perubahan
dalam keluarga tidak cukup hanya dimohonkan kepada Tuhan, tetapi juga
membutuhkan kemauan setiap pribadi untuk berubah dan bertumbuh.
“Kalian tidak harus
menjadi pasangan yang sempurna. Kalian hanya perlu terus belajar menjadi
pasangan yang lebih baik,” pesan RD Patrick. Perayaan Sakramen Perkawinan ini
menjadi tanda syukur sekaligus awal yang semakin kuat bagi kesembilan pasangan
untuk membangun keluarga Katolik yang penuh kasih, setia, dan bertanggung
jawab. [Jimmy Carvallo]