
Para religius dari berbagai tarekat yang berkarya di wilayah Keuskupan Ruteng berjumpa di Gereja Katedral Ruteng merayakan misa bersama. Tahun ini, bertepatan dengan momen Tahun Sinode IV Keuskupan Ruteng, Vikjen RP Sebastian mengajak para religius berperan aktif dalam menyembuhkan dunia yang sedang terluka.
Biarawati dari Kongregasi Bunda Penolong Abadi (BPS) saat bersama ratusan kaum religius lainnya dalam FKKR sedang mengucapkan Doa Pembaruan Kaul di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 2 Februari 2026. (Foto: PANITIA)
KATEDRALRUTENG.ORG - Forum Komunikasi
Kongregasi Religius (FKKR) Keuskupan Ruteng mengadakan perayaan Ekaristi
dalam rangka Hari Hidup Bakti Sedunia di Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan
Santu Yosep Katedral Ruteng, Selasa pagi, 2 Februari 2026. Misa yang bertepatan
dengan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, ini dipimpin oleh Vikaris
Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD.
RP Sebastian didampingi oleh sejumlah imam konselebrans, di antaranya Moderator FKKR RD Alfons Segar, dan Ketua FKKR RP Hironimus Aryo Dominggus, SMM. Misa ini dimeriahkan koor anggota Tarekat Suster Lambung Kudus. Ratusan biarawan, biarawati, novis dan postulan dari berbagai kongregasi yang berkarya di keuskupan Ruteng hadir dalam misa yang dimulai pukul 09.00 ini.
Vikjen Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD (tengah), Moderator FKKR Keuskupan Ruteng RD Alfons Segar (kiri), dan Ketua FKKR Keuskupan Ruteng RP Hironimus Aryo Dominggus, SMM saat memimpin Misa Hari Hidup Bakti ke-30 di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 2 Februari 2026 pagi. (Foto: PANITIA)
Hari Hidup Bakti yang
ke-30 tersebut mengambil tema “Berjalan Bersama Menjadi Saksi Profetik Di
Tengah Dunia Yang Terluka”, juga dilaksanakan pembacaan bersama Doa Pembaharuan Kaul oleh semua
kaum religius yang hadir sambil memegang lilin yang bernyala.
Sekolah Cinta yang
Berpusat pada Hati
Dalam homilinya, RP Sebastian berpesan, para religius hendaknya terus-menerus mengkontemplasikan identitas dan misinya melalui 3 dimensi harapan dalam hidupnya, yakni Iman yang Hidup, Persaudaraan dan Keseimbangan Psikologis, dan Keterbukaan.
Para Suster dari Kongregasi Lambung Kudus saat membawakan koor memeriahkan Misa Hari Hidup Bakti ke-30 yang diselenggarakan di Gereja Katedral Ruteng. Misa dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD. (Foto: PANITIA)
“Kita berziarah bersama
sambil memperkokoh tiga dimensi harapan tersebut dalam dunia yang terluka. Kita
mempunyai harapan dalam Kristus yang memberi kita hikmat, terang dan damai,
dalam menjalankan fungsi misioner kita. Kalau fungsi misioner kita tersembunyi,
maka dia beresiko kehilangan daya transformatifnya,” kara RP Sebastian.
FKKR, lanjut dia, tidak
boleh kehilangan daya transformatif itu. FKKR harus bisa menjadi School of Love
In A Wounded World, yang mengusung pendekatan spiritual-pastoral yang berpusat
pada hati, yakni membantu tanpa membelenggu, memberdayakan tanpa menciptakan
ketergantungan, menolong tanpa memaksakan kehendak.
“Pendekatan semacam ini
akan membuat orang mengalami penyembuhan dan pembebasan, membuat orang
menemukan kebenaran dan selalu mengusahakan kebaikan.
Dalam sambutannya,
Moderator FKKR RD Alfons Segar mengatakan kesempatan ini merupakan momen syukur
bersama atas Panggilan Hidup Membiara bagi setiap anggota tarekat yang
bergabung ddalam FKKR Keuskupan Ruteng. “Momen pembaruan kaul penyerahan diri
seutuhnya kepada Tuhan,” ucap RD Alfons.
Ia menambahkan, sesuai dengan tema perayaan, Berjalan Bersama Menjadi Saksi Profetik Di Tengah Dunia Yang Terluka, maka semuanya dimulai di tempat pelayanan masing-masing di setiap Tarekat, dengan menyembuhkan luka-luka kemanusian dan alam.
Suasana saat sedang berlangsungnya Misa Hari Hidup Bakti Sedunia di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 2 Februari 2026 yang dihadiri sekitar 700 kaum religius dari berbagai tarekat/kongregasi yang berkarya di Keuskupan Ruteng. (Foto: PANITIA)
“Semua Tarekat yang
bergabung dalam FKKR Keuskupan ini adalah satu kekuatan besar bagi keuskupan
Ruteng yang perlu ditunjukkan dengan ikut serta melaksanakan program pastoral
keuskupan Ruteng. Proficiat dan terima kasih atas terselenggaranya perayaan Hari
Hidup Bakti Tahun 2026 ini,” ujarnya.
Berjalan Bersama dan Menjadi
Saksi
Ketua FKKR Keuskupan
Ruteng RD Hironimus Aryo Dominggus, SMM disapa Pater Hariz saat memberikan
sambutan mengatakan, pada kesempatan merayakan Hari Hidup Bakti yang ke-30 ini, FKKR kembali diajak untuk berjalan bersama menjadi saksi pewarta kebenaran,
persaudaraan, dan perdamaian di tengah dunia yang terluka karena persoalan
kemanusiaan maupun ekologis.
“Berjalan bersama juga senada dengan semangat Sinode IV Keuskupan Ruteng tahun ini. Tentu sebagai bagian dari ziarah bersama umat Allah keuskupan Ruteng, FKKR sangat diharapkan untuk tidak menutup mata, tidak mengisolasi diri dari apa yang menjadi kebutuhan pastoral keuskupan Ruteng,” kata RP Hariz.
Foto bersama seusai misa, Vikjen Keuskupan Ruteng RP Sebastian Hobahana, SVD dan semua imam konselebrans dengan para religius yang menghadiri Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-30 di Gereja Katedral Ruteng, Selasa, 2 Februari 2026. (Foto: PANITIA)
Seusai misa dilanjutkan
acara ramah – tamah yang digelar di aula Assumpta kompleks Gereja Katedral yang
diisi dengan berbagai atraksi pertunjukan seni, drama, lagu, dan tari dibawakan
semua kongregasi yang ada di keuskupan Ruteng.